Cerpen : Hunting Photo & Hunting Masjid
Waktu dikala itu menandakan pukul 17.30 dan kami masih sibuk sibuknya mengambil gambar yang manis untuk koleksi foto, raut wajah yang sudah dipenuhi oleh polusi dan lengket oleh keringat saya pikir akan menciptakan sesi foto pada waktu itu akan segera berakhir. Tetapi beliau tetap saja asyik dengan kameranya mengambil setiap moment dihadapannya.
Baca Juga : Info Jasa Sedot Wc
“jangan berhenti, sebentar lagi mentari akan berada diposisi yang amat manis untuk difoto” Dia berceloteh padaku.
Aku berpaling darinya menatap mentari yang memang sedikit lagi berada diposisi yang manis untuk difoto sambil berkata “tapi ini sudah waktunya kita untuk mencari tempat buat beribadah, sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba”.
Tapi beliau semakin sibuk memandang matahari lewat kamera kesayangannya. Detik demi detik beliau selalu menjepret apa yang berdasarkan beliau indah. Lalu kemudian beliau menghampiriku dengan wajah manisnya dan dengan senyum yang menciptakan hati para lelaki luluh dihadapannya. Lalu berkata dengan nada yang manja.
“bisakah kau memfoto saya disana sambil saya memegang matahari”
Tadinya sempat saya menolak lantaran beralasan waktu yang semakin sore dan kami masih sibuk sibuknya dengan urusan duniawi.
Dia terus memaksa saya untuk memotret dirinya bersanding dengan matahari sore yang biasa disebut Sunset dengan pose centilnya dan dengan senyum yang penuh dengan tipuan yang selalu tertanam diwajahnya.
Baca Juga : Jasa Sedot Wc di Medan
Aku terus menolak hingga kesannya saya kalah oleh kata kata manjanya itu
“ ya sudah sini, tapi hanya satu kali jepretan ya?” aku menggerutu padanya.
Awalnya beliau mengikuti perintahku dengan hanya satu kali jepretan kamera.senyumu tidak terlihat menipu lagi pertanyaan perihal bagaimana hasil dari gambar yang saya ambil apakah manis atau tidak kau lontarkan kepadaku. Tetapi dikala kau menghampiriku dengan besar hati dan melihat hasil foto yang tidak mengecewakan terlihat bagus, Kata kata itu muncul kembali kata kata yang manja yang centil yang menciptakan saya tidak sanggup menolaknya.
Akhirnya saya mengikuti perintahnya hingga beliau puas dengan apa yang beliau inginkan dengan jepretan foto pada hari itu.
Kemudian sore itu kita akhiri, diperjalanan saya datang tiba merasa salah telah mendapatkan permintaan beliau untuk hunting Photo. Tetapi kesalahan itu saya tutupi dengan selalu terlihat baik dihadapannya.
Saat semua orang kemudian lalang dihadapan kita, beliau malah mengajak saya untuk berhenti sejenak dan menunda mencari tempat beribadah untuk shalat Maghrib.
“duduklah sebentar disini, ini tidak akan lama” ujar dia,
aku dengan sepontan menurutinya dengan alasan mungkin beliau lelah lantaran dari tadi beliau asyik memburu foto yang bagus.
“ baiklah” Ungkap diriku.
Tiba datang beliau menoleh padaku dan berbicara
“Bisakah kau membuka kamera dan melihat lihat hasil foto kita tadi siang”
dalam hati saya menggerutu
“Ya ampun, kau tak puas puas dengan foto tadi, bukankah sanggup kita buka sesudah kita melaksanakan Shalat Maghrib terlebih dahulu” .
Baca Juga : Cara Hasilkan Bitcoin Gratis
Dia senyum padaku dan saya begitu polosnya mengikuti perintahnya tersebut. Aku hanya membisu dan menyerahkan kamara yang berada dalam genggamanku kepada dia, kemudian saya mulai berdiri dari dingklik halte bus tempat kami beristirahat, sambil melihat lihat sekitar dan mencari masjid terdekat di tempat itu.
Kemudian saya menoleh ke temanku, terlihat beliau ketawa ketawa sendiri mungkin lantaran beliau melihat foto foto centilnya tersebut menyebabkan beliau ketawa ketawa sendiri dan hal itu pun menciptakan diriku ikut ketawa melihat kecacatan yang terjadi dalam diri temanku tersebut.
Aku merunduk melihat ke kamera sambil menyakan
“Apakah foto foto kita tadi terlihat manis ?”
Dia membisu sejenak tidak eksklusif menjawab pertanyaanku, beliau menoleh kepadaku sambil memasang wajah yang dipenuhi oleh senyum manisnya itu dan berkata
“ada banyak”.
Hampir setengah jam kita habiskan waktu kita di halte tersebut. Dan saya mulai gelisah lantaran ditempat tersebut saya tidak menemukan masjid, mungkin lantaran saya tidak hapal betul tempat tersebut oleh lantaran itu saya tidak menemukan masjid di sekitaran tempat tersebut.
Setelah beliau selesai dengan kameranya dan selesai melihat lihat hasil foto kita, kemudian beliau berdiri dan saya eksklusif berbicara padanya
“Ayo kita cari masjid, kita belum shalat maghrib tampaknya saya tidak menemukan masjid di tempat sini, coba kita pergi ke sebelah sana mungkin disana terdapat masjid untuk kita shalat maghrib”
Dia eksklusif mengikuti omonganku tanpa ada kata yang keluar dari mulutnnya.
Diperjalanan saya murung melihat diriku ini, sanggup bisanya saya melalaikan kewajibanku beribadah Rabb ku, Aku terus melihatlihat lihat sekitar untuk mencari masjid untuk kita shalat maghrib.
Kakiku sudah mulai lelah lantaran terus digunakan berjalan begitupun dengan temanku, beliau terlihat begitu lelah lantaran perjalanan itu. Melihat beliau begitu capek, saya pergi ke sebuah warung untuk membeli beberapa botol minuman.
Suara menyerupai bapak bapak dan ibu ibu sedang melaksanakan pengajian terdengar pelan dari kejauhan.
“Apakah kau mendengar bunyi itu” tanyaku sambil melihat lihat dimana arah bunyi itu berasal. “mungkin disebelah sana” beliau menjawab.
Aku segera mengambil ranselku yang saya simpan di tanah, kemudian segera saya mengajak temanku untuk segera pergi ke sumber bunyi itu.
“Kemana Kita akan pergi” beliau bertanya,
“Pokoknya cepatlah sebelum kita terlambat” Aku menjawab sambil berjalan lebih dulu.
“bisakah kau jangan terburu buru menyerupai itu” dia menyaut kepadaku.
“Tidak bisa” saya menjawab.
“ ini ialah urusan kita dengan Tuhan kita, bagaimana sanggup saya sanggup santai santai sedangkan kita belum melaksanakan kewajiban kita” .
Kali ini beliau tidak banyak bicara menyerupai biasanya, beliau eksklusif berjalan mengikutiku dari belakang.
Puluhan meter kita berjalan, beliau mulai kembali mengoceh
“Hey, dimanakah masjidnya , kita sudah jauh jalan tapi tidak menemukan masjidnya”
Aku membisu tidak menjawab omongannya dan terus melanjutkan perjalanan.
Aku menoleh kepada temanku dan bertanya
“apakah kau merasa capek lagi”.
“Iya, Aku mulai mencicipi kembali pegal pada kedua kakiku, apa sebaiknya kita istirahat lagi untuk beberapa menit saja” Dia menjawab.
“Tapi masjid yang sedang kita cari sebentar lagi kita temukan, bukankah alangkah baiknya kita istirahatnya di masjid saja” jawab diriku.
“Baiklah” jawab dia.
Kita terus melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid, ditengah perjalanan kita dihadapkan dengan sebuah persimpangan jalan, kita terus jalan hingga sempurna ditengah tengah persimpangan tersebut. Aku melihat lihat ke sebelah kanan, terlihat sebuah bangunan yang begitu besar dihiasi oleh lampu lampu yang menciptakan tempat itu terlihat sangat terperinci daripada bangunan lain yang berada disebelahnya. Sungguh saya merasa besar hati ketika kesannya saya dan temanku sanggup menemukan masjid untuk kita beribadah shalat maghrib.
“ayo kita kesana” pungkas diriku.
Dia diam, Kali ini beliau hanya mengangguk mengikuti omonganku.
Aku dan temanku eksklusif pergi ketempat itu dengan rasa pegal yang tidak lagi saya rasakan pada tubuhku. Sesampainya disana saya eksklusif pergi ke tempat wudhu untuk mengambil wudhu dan sesudah itu saya shalat maghrib Walaupun waktu untuk shalat maghrib sebentar lagi aka segera habis.
Dikejauhan saya mengirim pesan lewat handphoneku ke temanku
“Sebentar lagi waktu shalat isya akan segera tiba, apakah kita membisu sejenak disini sambil menunggu waktu Isya datang atau kita pergi ?” ungkap diriku.
“Alangkah baiknya kita membisu sejenak disini sekalian istirahat, lagi pula saya masih merasa letih lantaran perjalanan tadi” Balas dia.
“Oke oke bila begitu Kita akan disini dulu sebentar” balas aku.
“Oke” singkat beliau membalas.
Malam ini memang malam yang sangat melelahkan, ingin rasanya saya murka kepada temanku itu lantaran sudah menciptakan hati ini kesal, tapi bagaimana sanggup saya memarahinya, jadi sebaiknya amarahku ini saya simpan saja.
Setelah selesai shalat Isya Kita pun eksklusif pergi keluar masjid untuk melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan pulang saya tercekat perutku datang tiba bergetar, pikiran tidak lagi berjalan dengan lancar, tangan pun tidak lagi sekuat sebelumnya Tanpa disadari tiba datang bunyi perutku yang mungkin sudah mulai melaksanakan agresi demonya berbunyi. Dan hal itu pun menciptakan kita berdua terbahak bahak olehnya.
Malam itupun kita akhiri dengan makan malam bareng disebuah warung, saya dengan lahap menyantap makanan yang telah dihidangkan dan begitupun dengan temanku.



0 Response to "Cerpen : Hunting Photo & Hunting Masjid"
Post a Comment